NULL

Trump dan Netanyahu Bahas Iran, Klaim Demi Cegah Kehancuran

Posted on 11 Jun 2025

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan mencolok usai melakukan percakapan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Dalam komentarnya, Trump menyebut bahwa percakapan tersebut berlangsung sangat baik dan berkisar pada upaya bersama untuk “melakukan sesuatu terkait Iran demi mencegah kehancuran dan kematian.” Ia menambahkan, “Saya berharap ini berhasil, tetapi mungkin juga tidak membuahkan hasil.” Ucapan ini kembali memantik spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan dengan Iran.

Pernyataan Trump ini menjadi sorotan karena disampaikan di tengah eskalasi ketegangan antara Iran dan Israel, yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Israel secara terbuka menganggap Iran sebagai ancaman utama di kawasan, terutama karena program nuklirnya dan dukungannya terhadap kelompok perlawanan seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

Amerika Serikat, sebagai sekutu utama Israel, berulang kali memberikan dukungan politik, ekonomi, dan militer untuk menekan Iran. Bagi banyak pihak, pernyataan Trump justru menimbulkan kekhawatiran baru.

Upaya yang disebut-sebut sebagai pencegahan kehancuran justru bisa berujung pada konflik terbuka, mengingat sejarah panjang keterlibatan AS dan Israel dalam operasi militer di wilayah Timur Tengah. Banyak analis melihat bahwa setiap upaya intervensi atas nama “keamanan” atau “pencegahan” seringkali menjadi dalih untuk memperluas pengaruh geopolitik, bahkan dengan mengorbankan nyawa warga sipil.

Iran sendiri sudah lama menjadi target sanksi ekonomi berat oleh AS, terutama sejak Trump menarik diri dari perjanjian nuklir JCPOA tahun 2018. Kebijakan “tekanan maksimum” yang digagas pemerintah Trump memicu kemerosotan ekonomi Iran, namun tidak menghentikan aktivitas strategis negara tersebut di kawasan.

Kini, dengan adanya komunikasi intens antara Trump dan Netanyahu, kekhawatiran terhadap potensi serangan militer baru kembali mencuat. Di sisi lain, hubungan erat antara AS dan Israel terus menimbulkan ketimpangan dalam dinamika Timur Tengah.

Alih-alih menjadi penengah, AS dinilai semakin memihak Israel dan mengabaikan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan terhadap rakyat Palestina maupun negara-negara lain yang dianggap sebagai lawan Israel. Ini juga menjelaskan mengapa pernyataan Trump disambut dengan skeptisisme di berbagai belahan dunia.

Banyak pengamat menilai bahwa langkah-langkah yang diambil oleh AS dan Israel, jika tidak disertai diplomasi yang jujur dan terbuka, justru akan memperpanjang penderitaan masyarakat sipil di kawasan. Apalagi, istilah “mencegah kehancuran” terdengar ironis ketika dilontarkan oleh pihak-pihak yang secara historis terlibat dalam intervensi militer berkepanjangan.

Pernyataan Trump, meski tampak sebagai isyarat kehati-hatian, sejatinya memberi sinyal bahwa konfrontasi dengan Iran tetap menjadi agenda strategis. Apakah “usaha demi pencegahan” yang dimaksud merupakan diplomasi damai atau justru operasi militer terselubung masih menjadi pertanyaan besar.

Namun satu hal jelas, dunia terus menyaksikan bagaimana narasi perdamaian kerap dibungkus dalam kepentingan politik dan dominasi wilayah. Situasi ini menambah kompleksitas lanskap geopolitik Timur Tengah.

Dengan segala kekuatan dan pengaruhnya, langkah Amerika Serikat dan Israel akan terus menentukan arah konflik atau perdamaian di kawasan. Namun bagi rakyat biasa, terutama di Palestina, Iran, dan negara-negara sekitar, yang paling mereka harapkan bukanlah retorika diplomasi kosong, melainkan penghentian nyata terhadap kekerasan dan penindasan yang telah berlangsung terlalu lama.